Anshurussunah al-Muhammadiyah (Cikarang)

“Banyak yang mengaku madu murni, tetapi dimana islam yang murni ?”

Arsip untuk ‘ORGANISASI MASA (ORMAS)’ Kategori

AKHIRNYA PKS SIAP MENERIMA CALEG NON-MUSLIM (IMAN, GAK IMAN SING PENTING NGUMPUL)

Ditulis oleh aburomadhon di/pada Mei 15, 2008

SUARA PEMBARUAN DAILY

 


PKS Siap Menerima Caleg Non-Muslim

[JAKARTA] Wakil Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera Fahri Hamzah mengungkapkan partainya siap menerima calon anggota legislatif dari kalangan non-Muslim. Hal itu merupakan konsistensi atas keterbukaan parpol tersebut.

“Kami siap mencalonkan kalangan non-Muslim sebagai anggota DPR dari PKS dan juga siap bekerja sama atau berkoalisi dengan partai apa pun dan lembaga mana pun,” kata Fahri kepada Antara di Jakarta, Minggu (3/2).

Fahri yang sedang menghadiri penutupan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) PKS di Sanur, Bali, menyatakan kesediaan partainya membuka diri terhadap anggota-anggota dari kalangan non-Muslim juga sebagai konsistensi keterbukaan PKS yang sebenarnya telah dirintis sejak awal.

Selama ini, ia menambahkan, PKS juga telah memiliki anggota DPRD yang non-Muslim di beberapa daerah. Langkah PKS untuk menjadi partai yang terbuka terhadap semua kalangan/agama di Indonesia mendapat sambutan. Salah satunya oleh Sebali Tianyar Arimbawa, pendeta Hindu di Bali yang biasa disebut Ida Pedanda.

Dukungan tokoh sepuh Hindu di Bali atas keterbukaan PKS itu dikemukakan pada saat dialog kebangsaan dalam Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) PKS di kawasan Pantai Sanur. Dia menyatakan siap diajukan sebagai calon legislatif (caleg) dari PKS.

“PKS itu, yang saya tahu, sudah menjadi partai terbuka dari dulu. PKS memahami kemajemukan di negeri ini,” kata tokoh asal Griya Tegeh Amlapura itu. [O-1]

 


Last modified: 3/2/08 Sumber : www.suarapembaruan.com/last/index.html tangal 4/02/2008

PLURALITAS FITRA, NKRI FINAL Presiden PKS juga menegaskan bahwa PKS komitmen terhadap NKRI. “Karena PKS adalah partai nasionalis yang relijius,” kata Tifatul. Tifatul juga menyampaikan beberapa hal yang mengancam NKRI, diantaranya separatisme dan transnational crime.PK-Sejahtera Online: Pluralitas adalah fitrah manusia. Yang tanpanya, kehidupan manusia di muka bumi bisa rusak. Hal tersebut disampaikan Ketua Majelis Syuro PKS, KH. Hilmi Aminudin di Bali awal Pebruari lalu. “Pluralitas adalah fitrah manusia. Fitrah tidak mungkin ditolak, apalagi dilawan,” ujar Hilmi.

Hilmi juga mengatakan bahwa pelaksanaan Mukernas PKS di Bali adalah bukan sebuah kebetulan. Tapi merupakan sebentuk pengakuan PKS terhadap pluaralitas di negeri ini. Sekaligus untuk menghilangkan stigma negatif terhadap PKS yang selama ini. “Insya allah daerah-daerah lain nanti juga akan dapat giliran (jadi tempat event nasional PKS, red). Bisa di Kupang, Papua, Kalimantan tengah. Semuanya adalah tanah air yang kami cintai,” kata Hilmi.

Bahkan Pria asli Betawi ini mengatakan bahwa Bali patut menjadi contoh dalam membangun kebersamaan masyarakat. Menurutnya masyarakat Hindu Bali yang mayoritas mampu mengayomi dan memperlakukan masyarakat muslim yang minoritas laiknya saudara kandung. “Ini bisa dicontoh oleh komunitas lainnya,” imbuh Hilmi. Untuk mewujudkan itu semua PKS siap all out membangun Bali. “5700 kader PKS di Bali siap memperjuangkan aspirasi masyarakat Bali,” jamin Hilmi yang disambut aplaus hadirin.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden PKS Tifatul Sembiring juga menegaskan bahwa PKS komitmen terhadap NKRI. “Karena PKS adalah partai nasionalis yang relijius,” kata Tifatul. Pada kesempatan yang sama, Tifatul juga menyampaikan beberapa hal yang mengancam NKRI, diantaranya separatisme dan transnational crime. (wn)

Sumber: PKS Online.www.pks-anz.org/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=1076&mode=thread&order=0&thold=0

 

(RN | PIP PKS-ANZ | pks-anz.org)

TOKOH PKS SAMBANGI PURI_PURI JELANG MUKERNAS Denpasar – Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. PKS tampaknya ingin mengamalkan kiasan itu. Menjelang Mukernas yang diselenggarakan di Bali, petinggi-petinggi PKS siang ini ’sibuk’ mengunjungi puri-puri yang berada di Denpasar.Puri yang akan disambangi antara lain Puri Satria, Puri Kesiman, dan Puri Pemecutan.

Puri-puri itu akan dikunjungi secara bergantian oleh mantan Presiden PKS Hidayat Nurwahid, Ketua Majelis Syuro KH Hilmi Aminudin, Ketua Dewan Syariah Pusat Dr Surahman, Ketua MPP Suharna, dan Presiden PKS Tifatul Sembiring.

Kunjungan akan dimulai pukul 14.00 WIB, Kamis (31/1/2008). Mereka bersilaturahmi menjelang Mukernas yang akan digelar mulai 1-3 Februari 2008. Munernas akan digelar di Ina Grand Bali Beach, Sanur.

Alasan PKS menggelar Mukernas di Bali, karena mereka ingin mengubah image bukan sebagai partai ekslusif tapi sebagai partai yang bisa diterima oleh semua kalangan, suku dan agama.

Bali, menurut ketua panitia lokal Mukernas PKS Mujiono saat dihubungi detikcom, dinilai mempunyai karakter nasionalis yang sangat dominan dibandingkan daerah lain. Terbukti partai nasionalis meraup suara besar di Bali.

“Dengan kunjungan ke puri menjelang Mukernas di Bali kita berharap bsia merangkul putra terbaik Indonesia dari berbagai suku bangsa, agama untuk bergabung dengan PKS,” katanya.

Dalam Mukernas, PKS juga akan mengadopsi budaya Bali. Salah satunya peserta akan menggunakan ikat kepala khas Bali, yakni udeng. Selain itu pengamanan Mukernas diserahkan kepada pecalang.

Sumber: detik.com.
www.pks-anz.org/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=1075&mode=thread&order=0&thold=0

 

(RN | PIP PKS-ANZ | pks-anz.org)

REPUBLIKA Jumat, 01 Februari 2008‘PKS TERBUKA BUKAN IKUT-IKUTAN

DENPASAR — Tekad Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadi partai terbuka sudah bulat. Bahkan kata Ketua Dewan Syariah PKS, Dr Surahman Hidayat, keputusan menjadi partai terbuka sudah dipikirkan sebelumnya dan bukan untuk ikut-ikutan.

”Kami melakukannya dengan keyakinan dan penuh keikhlasan,” kata Surahman, di sela kunjungannya ke Puri Kesiman Denpasar, Bali, Kamis (31/1).

Kunjungan Surahman ke sejumlah Puri di Denpasar merupakan rangkaian acara pelaksanaan Mukernas PKS yang akan berlangsung di Sanur, Bali, mulai Jumat (1/2). Bersama Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Surahman juga mengunjungi Puri Pemecutan Denpasar dan Puri Satria Denpasar, serta berkunjung ke kediaman mantan Ketua MUI Bali HS Habib Adnan.

Dikatakan Surahman, andaikata Mukernas PKS di Sanur 1-4 Februari memutus PKS menjadi partai terbuka, semuanya telah didasarkan atas pertimbangan yang matang dan telah melalui kajian yang mendalam. Karena dalam setiap pengambilan keputusan, kata dia, PKS selalu mendasarinya pada tiga hal, yakni pada kajian atau ilmu, pada keyakinan, dan ketiga dengan keikhlasan.

Kelak lanjut Surahman, bila PKS menjadi partai terbuka, maka siapa pun boleh menjadi anggota dan pengurus PKS, bahkan duduk mewakili partai di legislatif. Yang penting lanjutnya, yang bersangkutan memiliki komitmen yang sama dengan partai.

”Tentu saja posisi mana yang akan ditempatinya, sangat tergantung pada lama pengabdian dan kiprah yang ditunjukkannya,” katanya. Mantan Presiden PKS, Hidayat Nur Wahid, mengatakan meski menjadi partai terbuka, PKS nantinya tetap tidak mengaburkan nilai-nilai keislamannya. ”Sebagai agama terbuka, Islam jangan hanya ditafsirkan dalam pengertian formal saja, tetapi lebih pada bentuk aksi-aksinya, seperti pada pemberantasan korupsi, memberantas kemiskinan, menegakkan demokrasi, menghapus pengangguran.”

Ketika ditanya, apakah dengan menjadi partai terbuka PKS tidak khawatir ditinggalkan oleh para pendukung tradisionalnya, yakni kaum muslimin, Hidayat, menyatakan hal itu tidak akan terjadi. Menurut dia, selama ini kaum muslimin memberikan dukungannya kepada PKS lebih melihat kepada perilaku dan sepak terjang para pengurus dan figur-figurnya.

”Jadi kami tidak melihat alasan mereka untuk berpaling dari PKS, karena kami menerima orang non muslim mnjadi pendukung PKS,” kata Hidayat. Pelingsir Puri Kesiman, Kusuma Wardana, menyatakan PKS jangan menjadi partai yang hanya memikirkan kelompoknya saja, tetapi harus memikirkan bangsa Indonesia yang besar. Kalau PKS hanya memikirkan kelompoknya, maka akan terjadi pengkotak-kotakan dan berarti PKS mengulangi kekeliruan-kekeliruan yang dilakukan oleh partai-partai lainnya.

”PKS harus tetap lurus dalam mengawal bangsa, jangan terparuh oleh kepentingan-kepentingan yang sempit,” kata Kusuma Wardana seusai acara silaturrahim itu.

(aas ) REPUBLIKA Jumat, 01 Februari 2008

Ditulis dalam ORGANISASI MASA (ORMAS) | Leave a Comment »

PKS MENGHALALKAN TAHLILAN, MAULID & BARJANJI

Ditulis oleh aburomadhon di/pada Mei 15, 2008

RISALAH UNTUK MENGOKOHKAN UKHUWAH DAN ISHLAH

DPP PKS bersyukur kepada Allah SWT dan menyampaikan penghargaan yang tulus kepada pimpinan PB NU dan PP Muhammadiyah, yang telah bersepakat untuk menghadirkan kondisi yang kondusif bagi ummat dan perbedaan keduanya dalam penentuan I Syawal 1428 H / Hari Raya ledul Fitri disikapi dengan semangat saling menghormati agar ukhuwah Islamiyah tetap terjaga.

Di tengah menguatnya semangat berukhuwah dan bertoleransi terhadap perbedaan furu’iyah. DPP PKS prihatin dengan masih terus disebarkannya beragam informasi yang tidak bertanggung jawab seperti pengedaran selebaran atau fotokopi-an yang mengatasnamakan DPD/DPP PKS, juga melalui ceramah atau pengajian yang bisa menjadi fitnah terhadap PKS, dan dapat mengganggu iklim ukhuwah yang sedang dijalin serta dikhawatirkan dapat mengurangi kekhusyu’an beribadah puasa. Untuk itulah DPP PKS perlu menyampaikan klarifikasi dan keterangan sebagai berikut :

1. Tak seperti kelompok yang disebut sebagai Wahabi, PKS adalah Partai politik yang beraktifitas di NKRI, yang menjadikan partai sebagai sarana/washilah untuk berdakwah dan menyebarkan yang ma’ruf dengan tetap menghormati perbedaan furu’iyah, mengedepankan ukhuwwah dan memahami bahwa ikhtilaf ijtihad bisa menjadi rahmat. Karenanya melakukan tabdi’ (membid’ahkan) dan takfir (mengkafirkan) para ulama apalagi para Wali songo yang sangat berjasa itu bukanlah Manhaj PKS yang menganut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Karenanya PKS tidak pernah mengeluarkan surat edaran yang berisi hujatan maupun pengharaman terhadap peringatan Maulid, Tahlilan, Barzanji yang dilakukan oleh ummat Islam di Indonesia penganut Ahlul Sunnah Wal jamaah. Jadi fotokopi-an surat edaran yang mengatasnamakan DPP tanpa ada yang menandatanganinya dan menggunakan kop yang berbeda itu adalah palsu dan merupakan fitnah terhadap PKS. Maka tidak aneh bila kader PKS seperti DR Nur Mahmudi Ismail yang juga adalah Walikota Depok, menyelenggarakan peringatan Maulid dengan penceramah K.H Zainuddin MZ dan Habieb Rizieq Shihab.

2. PKS dalam melakukan aktifitasnya selalu mementingkan pengamalan prinsip tasamuh dan ta’awun dan berorientasi kepada khidmatul ummah dengan tetap menghormati kekhasan dari masing-masing organisasi maupun pilihan hasil ijtihadnya, selama ia memang mempunyai rujukan di dalam Al-Quran, Assunnah maupun mazhab ahlu sunnah wal jamaah, apalagi banyak kader dan simpatisan PKS berasal dari berbagai macam latar belakang ormas keagamaan, seperti dari NU, Muhammadiyah. DDII, Persis, PUI, Hidayatullah dan lain-lain. Karenanya PKS tidak akan pernah mengeluarkan doktrin untuk mengambil alih apalagi menguasai Masjid, jadwal Khotib, Rumah Sakit, Sekolah atau amal usaha milik organisasi lain. PKS bahkan menginstruksikan kepada seluruh kademya untuk membantu ummat yang menjadi korban gempa di Yogjakarta dan lain-lain dengan berkomunikasi dengan para donatur untuk membangunkan/membangun kembali Masjid-masjid yang diwakafkan misalnya kepada Muhammadiyah di Prambanan.

3. PKS sebagai organisasi politik tidak memiliki sekolah maupun Radio partai, memang kader-kader PKS banyak yang bergerak dalam bidang pendidikan maupun media, tetapi tidaklah seluruh sekolah yang berlabel ISLAM TERPADU dikelola oleh kader PKS, tetapi kalau ada Radio yang selalu menyiarkan ajaran tentang pengkafiran/ pembid’ahan Wali songo apalagi Syeikh Abdul Qodir Al-jailani, sebagai mana isu yang beredar, pasti bukan dari kader/simpatisan PKS.

4. PKS menyadari sepenuhnya bahwa dirinya seperti juga organisasi yang lain, bukanlah kelompok yang ma’shum. Ia hanyalah sekumpulan manusia yang bisa melakukan kesalahan, maka untuk hal-hal yang tidak menjadi kebijakan partai tetapi di lapangan dinilai telah menimbulkan masalah di tengah sebagian ummat, kami mohon maaf lahir dan bathin. PKS tetap berkomitmen untuk mendengar serta menerima nasihat, agar terjadi ishlah, agar ukhuwwah Islamiyah dapat terjaga guna menguatkan ukhuwwah wathoniyah dan ukhuwwah basyariyah. PKS menyadari bahwa ada pihak-pihak tertentu yang suka mengadu domba di antar ummat, yang tidak senang bila ummat Islam berukhuwwah, sehingga dapat berperan lebih produktif untuk mewujudkan NKRI yang berdaulat jaya dan raya di tengah persaingan global itulah NKRI yang baldatun thoyyibatun warobbun ghafur. Untuk itu PKS, juga berharap dari pihak yang lain, selalu siap untuk berta’awun, saling tabayyun, mengokohkan silaturahim, untuk menghentikan penyebaran fitnah dan menggantinya dengan ukhuwwah, untuk menghentikan pecah belah di antara ummat agar berbagai komponen ummat lebih dapat berta’awun untuk merealisasikan kemaslahatan yang lebih besar bagi masyarakat di Negara tercinta Republik Indonesia.

Demikianlah klarifikasi ini disampaikan, in uridu ilia al ishlaha ma ishtatho’tu wa ma taufiqi ilia billah alaihi tawakkaltu wa ilaihi unibu..

Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Jakarta, 15 Ramadhan 1428 H 27 September 2007

Ir. H. Tifatul Sembiring
Presiden PKS

KH. DR. Surahman Hidayat
Ketua Dewan Syariah Pusat PKS

sumber : pk-sejahtera.org & Republika Senin 1 Oktober 2007

Ditulis dalam ORGANISASI MASA (ORMAS) | Leave a Comment »

FATWA ULAMA TENTANG HARAMNYA HIZBIYAH [BERPARTAI-PARTAI]

Ditulis oleh aburomadhon di/pada Mei 15, 2008

FATWA ULAMA TENTANG HARAMNYA HIZBIYAH [BERPARTAI-PARTAI]

Oleh
Markaz al-Imam al-Albani

Pertanyaan : Apa hukum berbilangnya jama’ah (hizbiyah) dan kelompok didalam Islam, dan apa hukum berafiliasi padanya?

[1]. Lajnah Da`imah lil Ifta’ (Komite Tetap Urusan Fatwa) yang diketuai oleh Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullahu yang beranggotakan : Syaikh Abdur Razaq Afifi Rahimahullahu, Syaikh Abdullah bin Ghudayyan dan Syaikh Abdullah bin Hasan bin Qu’ud menjawab tentang haramnya hal ini di dalam fatwa no 1674 (tanggal 7/10/1397) sebagai berikut :

“Tidak boleh memecah belah agama kaum muslimin dengan bergolong-golongan dan berpartai-partai… karena sesungguhnya perpecahan ini termasuk yang dilarang oleh Allah, dan Allah mencela pencetus dan pengikut-pengikutnya, serta Allah janjikan pelakunya dengan siksa yang pedih. Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” [Ali Imran : 103]

Dan firman-Nya :

“Artinya : Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” [Ali Imran 105]

Serta firman-Nya :

“Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka.” [Al-An’am : 159]

Adapun para penguasa kaum muslimin, jika mereka yang mengurus dan mengelola aktivitas agama dan duniawi di tengah-tengah mereka. Maka yang demikian ini disyariatkan.”

[2]. Di dalam Majmu’ Fatawa Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullahu (Juz V/202-204), beliau menjawab dengan terperinci pertanyaan ini. Beliau Rahimahullahu berkata :

“Sesungguhnya Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjelaskan kepada kita jalan yang satu, yang wajib bagi kaum muslimin menempuh jalan tersebut, yaitu jalan Allah yang lurus dan manhaj agama yang benar. Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya.” [Al-An’am : 153]

Maka wajib bagi seluruh ulama kaum muslimin untuk menerangkan hakikat ini, berdiskusi dengan tiap jama’ah dan menasehati seluruhnya supaya mereka mau meniti jalan yang telah digariskan Allah kepada hamba-Nya dan yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam menyeru padanya. Barang siapa menyeleweng dari jalan ini dan terus menerus menentangnya, maka wajib bagi orang yang mengetahui hakikatnya untuk menyebarkan kesalahannya, mentahdzir umat darinya, sampai manusia menjauh dari manhajnya dan sampai tidak turut masuk bersama mereka orang-orang yang tidak mengetahui hakikat keadaan mereka sehingga mereka tersesat dan berpaling dari jalan yang lurus. Jalan yang mana Allah memerintahkan kita untuk mengikutinya. Tidak ragu lagi, bahwasanya kebanyakan kelompok-kelompok dan jama’ah-jama’ah di negeri-negeri Islam termasuk perkara yang disenangi oleh syaithan, ini yang pertama, dan yang kedua, perkara ini disenangi oleh musuh-musuh Islam dari kalangan manusia.”

[3]. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahullahu memiliki fatwa yang serupa di dalam fatwa beliau (hal. 196 – cetakan Mesir), beliau Rahimahullahu berkata : “Tidak tersembunyi bagi setiap muslim yang mengetahui Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, dan yang dipegang oleh Salafuna ash-Sholih Radhiyallahu ‘anhum bahwasanya tahazzub (berpartai-partai) dan membentuk jama’ah-jama’ah yang beraneka ragam manhaj dan cara-caranya, bukanlah bagian dari Islam sedikitpun. Bahkan hal ini termasuk perkara yang dilarang oleh Rabb kita Azza wa Jalla di dalam banyak ayat di dalam al-Qur’an al-Karim.”

[4]. Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin Rahimahullahu memiliki fatwa yang serupa yang tersebar di dalam kitab Ash-Shohwah Islamiyyah Dlowabith wa Taujihaat (hal. 154), beliau Rahimahullahu berkata : “Tidak ada di dalam Kitabullah dan as-Sunnah yang memperbolehkan berbilangnya jama’ah dan kelompok. Sesungguhnya yang terdapat di dalam al-Kitab dan as-Sunnah adalah yang celaan terhadap hal ini. Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).” [Al-Mu’minun : 53]

Tidak ragu lagi, bahwasanya kelompok-kelompok ini meniadakan apa yang diperintahkan Alloh, bahkan apa yang dianjurkan oleh-Nya di dalam firman-Nya Ta’ala :

“Artinya : Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku “ [Al-Anbiya’ : 92]

[5]. Syaikh DR. Sholih al-Fauzan (anggota Lembaga Ulama Senior) memiliki fatwa yang serupa, yaitu ucapan beliau : “Tafarruq (bergolong-golongan) bukanlah bagian dari agama, karena agama memerintahkan kita untuk bersatu, dan hendaknya kita menjadi jama’ah yang satu dan umat yang satu di atas aqidah tauhid dan penauladanan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” [Ali Imran : 103]

[Sebagaimana termuat di dalam kitab Muhadzdzab Hukmil Intima’]

Ya Allah anugerahkanlah kepada jiwa kami ketakwaan dan sucikan jiwa kami karena Engkau adalah sebaik-baik yang mensucikannya. Engkau adalah Walinya dan Maulanya

Demikian akhir seruan kami, segala puji hanyalah milik Allah Rabb (Pemelihara) alam semesta.

[Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 24 Th.V Dzulqo’dah 1427H, Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad As-Salafy Surabaya. Jl. Sidotopo Kidul No. 51 Surabaya]

© copyleft almanhaj.or.id

Ditulis dalam ORGANISASI MASA (ORMAS) | Leave a Comment »