Anshurussunah al-Muhammadiyah (Cikarang)

“Banyak yang mengaku madu murni, tetapi dimana islam yang murni ?”

Arsip untuk ‘1’ Kategori

Sebagian Doktrin LDII Menjiplak Ajaran Syi’ah Imamiyah

Ditulis oleh aburomadhon di/pada Mei 15, 2008

Sebagian Doktrin LDII Menjiplak Ajaran Syi’ah Imamiyah

Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri

Ikhwah sekalian, tulisan ustadz kali ini mencoba untuk mengurai kekusutan doktrin LDII lainnya, yang ternyata doktrin tersebut menjiplak habis-habisan ajaran Syi’ah Imamiyah yang jauh menyimpang dari ajaran islam. Selain itu, ustadz Muhammad Arifin juga mengulas tentang standar kebenaran yang telah keliru dimaknai oleh pengikut LDII, yaitu menjadikan permusuhan dan penentangan dari kelompok selainnya sebagai standar kebenaran. Sungguh suatu pemikiran yang keliru, karena kita tahu sebelumnya bahwa kelompok Ahmadiyah juga mempraktekkan standar tersebut, dan baru-baru ini kelompok ‘Kerajaan Tuhan’ Lia Eden juga menggunakan standar tersebut sebagai pembenaran bagi kelompoknya. Semoga dengan adanya penjelasan ini dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua.

***

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad shollallahu’alaihiwasallam, keluarga dan sahabatnya.

Doktrin Mangkul

Mungkin ada dari pembaca yang bertanya-tanya: apa buktinya bahwa doktrin Mangkul LDII adalah hasil jiplakan dan hasil adopsi dari sekte Syi’ah Imamiyah adalah salah satu judul bab dalam kitab Al Kafi karya Al Kulainy:

باب: أنه ليس شيء من الحق في أيدي الناس إلا ما خرج من عند
الأئمة وأن كل شيء لم يخرج من عندهم فهو باطل.

“Bab: Tidak ada sedikit pun kebenaran yang ada di masyarakat selain yang disampaikan oleh para imam, dan segala sesuatu yang tidak disampaikan oleh mereka maka itu adalah bathil.” (Al Kafi 1/399).

Kemudian Al Kulainy menyebutkan ucapan Abu Ja’far (salah seorang yang dianggap sebagai Imam Syi’ah Itsna ‘Asyariyyah):

ليس عند أحد من الناس حق ولا صواب ولا أحد من الناس يقضي
بقضاء حق إلا ما خرج منا أهل البيت وإذا تشعبت بهم الأمور
كان الخطأ منهم والصواب من علي عليه السلام. الكافي للكليني
1/399.

“Tidaklah ada seseorang memiliki al haq tidak juga kebenaran, dan tidaklah ada seseorang yang memutuskan suatu keputusan yang benar, selain dengan apa yang telah kami ajarkan yaitu ahlul bait (anak keturunan Ali). Dan bila mereka telah berselisih dalam berbagai permasalahan, maka pasti merekalah yang salah dan kebenaran hanya datang dari Ali alaihis salam.” (Al Kafi oleh Al Kulainy 1/399).

Bandingkan antara ucapan apa yang saya nukilkan dari kitab Al Kafy karya Al Kulainy ini, dengan doktrin mangkul ala LDII. Saya yakin orang yang hati nuraninya masih terpancar kecintaan terhadap kebenaran dan rasa takut akan neraka serta harapan untuk masuk surga akan berkata: Sesungguhnya doa doktrin ini adalah sama dan tidak ada bedanya. Inilah sekte induk LDII.

Dengan demikian jelaslah asal usul doktrin mangkul ala LDII dan bahwa Nur Hasan Ubaidah hanyalah menjiplak dan mencuri doktrin Syi’ah Imamiyah dan kemudian dipoles dengan belajar hadits dengan penafsiran dan pemahaman yang mendukung kepentingannya, yaitu pemungutan upeti sebagaimana yang diakui oleh saudara Aris Wahyono (mantan pengikut LDII).

Imam Bithonah

Diantara yang menguatkan dugaan bahwa LDII adalah hasil jiplakan dari Syi’ah Imamiyyah ialah apa yang mereka sebut dengan Imam Bithonah. Dalam keyakinan Syi’ah Imamiyah dinyatakan bahwa umat islam harus dipimpin oleh seorang imam yang ma’shum (terpelihara dari kesalahan dan perbuatan dosa), jumlahnya adalah 12 orang, dan imam mereka yang terakhir disebut dengan Muhammad bin Hasan Al Askary. Syi’ah Imamiyyah meyakini bahwa imam mereka yang ke 12 ini bersembunyi sejak berumur 4 atau 5 tahun di ruang bawah tanah, dan tidak ada yang dapat menjumpainya kecuali orang yang mereka istilahkan sebagai al bab (perwakilan/agen/amir perantara). Dan Mereka mengharamkan siapa saja untuk menentukan tempat persembunyiannya ini, bahkan sampai-sampai Al Kulainy berkata:

عن داود بن القاسم الجعفري قال : سمعت أبا الحسن العسكري:
الخلف من بعدي الحسن، فكيف بكم بالخلف من بعد الخلف؟
فقلت:ولم جعلني الله فداك؟ قال: إنكم لا ترون شخصه ولا يحل
لكم ذكره باسمه. فقلت: فكيف نذكره؟ قال: قولوا: الحجة من آل
محمد صلوات الله عليه وسلامه. الكافي للكليني 1/332-333.

“Dari Dawud bin Al Qasim Al Ja’fary, ia menuturkan: Aku pernah mendengar Abul hasan Al Askary (yaitu imam yang ke-10) berkata: ‘Penggantiku ialah Al Hasan (yaitu putranya sendiri), dan bagaimana sikap kalian dengan pengganti orang yang menggantikanku?’ Akupun bertanya: ‘Mengapa? Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu.’ Ia menjawab: ‘Sesungguhnya kalian tidak akan melihat orangnya, dan juga tidak halal bagi kalian untuk menyebutkan namanya.’ Maka aku pun bertanya: ‘Bagaimanakah kami menyebutnya?’ Ia menjawab: ‘Katakan: Orang yang menjadi hujjah dari keluarga Muhammad, semoga shalawat dari Allah dan salam-Nya terlimpahkan selalu kepadanya.’” (Al Kafi 1/332-333).

Bila kita bandingkan doktrin Syi’ah Imamiyah ini dengan doktrin LDII yang mengajarkan kepada umatnya agar berbai’at kepada Imam Bithonah yang senantiasa dirahasiakan jati dirinya (nama, tempat tinggal, umur dll), niscaya kita dapatkan dua doktrin ini serupa dan sama. Mungkin yang membedakan antara keduanya hanyalah hukum menyebutkan nama atau tempat tinggal imam tersebut.

Permusuhan Dari Kelompok Lain Bukanlah Standar Kebenaran
Kemudian ada satu poin dari perkataan Abul Baghda yang terlupakan untuk saya komentari, yaitu ia berdalil dengan ucapan Waraqah bin Naufal kepada Nabi shollallahu’alaihiwasallam pada saat beliau menceritakan kisahnya menerima wahyu untuk kali pertama, yaitu ketika beliau menerima 5 ayat pertama dari surat Iqra’ di gua Hira’. Waraqah berkata kepadanya:

قال ورقة: م يأت رجل قط بما جئت به إلا عودي

“Tidak akan ada seorang pun yang membawa kebenaran semisal yang engkau bawa (ajarkan) melainkan akan dimusuhi.” (Muttafaqun ‘alaih)

Kemudian Abul Baghda’ bertanya:

GOL ANDA DI HUJAT ? DI KAFIRKAN ? OLEH GOL LAIN ? TIDAK ? BERARTI ANDA BUKAN YANG DI MAKSUD DALAM HADITS INI.

Ahli Hadits muda ini (Abul Baghda’ -ed) menjadikan permusuhan yang ditujukan kepada suatu kelompok sebagai standar kebenaran? Sehingga menurut pemahaman ucapannya ini: karena LDII dimusuhi maka LDII adalah kelompok yang benar. Sedangkan kelompok lain selain LDII tidak dimusuhi, maka mereka tidak benar alias sesat. Subhanallah! Demikianlah pemahaman ahli hadits LDII muda ini? Betapa dangkalnya cara berfikir mereka?! Sekedar permusuhan yang ditujukan kepada suatu kelompok atau seseorang dijadikan sebagai dalil atau pertanda kebenaran kelompok atau orang tersebut.

Saya ingin bertanya: Siapakah diantara kita bahkan dari manusia yang ada di dunia ini yang tidak memusuhi perampok, pendusta, pengkhianat, penjilat, pemalsu, pencuri, pemerkosa, pemabok, pencopet, pemakan daging manusia??!! Saya yakin setiap orang memusuhi mereka. Nah, apakah permusuhan yang tertuju kepada mereka merupakan pertanda bahwa mereka adalah orang-orang yang dimaksudkan dari ucapan Waraqah bin Naufal??!! Jawablah dengan jujur wahai ahli hadits muda LDII! Semoga saja ahli hadits muda ini menjawab pertanyaan ini dengan: “Ya”, Dan bila demikian berarti agama LDII adalah agama berbagai pe-pe di atas. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Dan bila ahli hadits muda ini menjawab: “Tidak”, demikian berarti pertanyaan yang anda ajukan serta pendalilan ini adalah salah serta sesat dan menyesatkan. Dan ini membuktikan betapa ngawur dan sesatnya pemahaman yang diajarkan oleh Imam Bithonah kepada anggotanya.

Standar kebenaran dalam agama islam ialah Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman yang selaras dengan pamahaman Salafus Sholeh (para sahabat dan murid-muridnya), -sebagaimana yang telah saya jabarkan pada artikel saya tentang ilmu mangkul, dan bukan permusuhan yanng ditujukan kepada seseorang. Bahkan bila kita sedikit berfikir lebih jernih, permusuhan yang dilontarkan oleh kelompok LDII kepada selain mereka lebih besar dibanding permusuhan yang dilontarkan oleh kelompok lain kepada LDII. Hal ini karena LDII telah mengkafirkan selain kelompoknya, dan bila seseorang itu telah kafir, maka halal darah, jiwa, harta, serta kehormatannya untuk dirampas. Sedangkan permusuhan kelompok lain kepada LDII hanya sebatas meyakini bahwa LDII adalah aliran sesat, menyeleweng dari kebenaran/agama islam yang benar, dan belum sampai pada tahap meyakini mereka telah kafir keluar dari agama islam.

Sadarlah wahai saudaraku! berfikirlah jernih! gunakan akal sehatmu! Dan lapangkan dadamu untuk berdoa memohon hidayah/petunjuk dari Allah Ta’ala, agar anda ditunjukkan kepada kebenaran dan dihindarkan dari kesesatan. Berdoalah dengan doa yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad shollallahu’alaihiwasallam berikut ini:

اللهم ربَّ جبرائيلَ وميكائيلَ وإسرافيلَ فاطَر السَّماواتِ
والأرضِ، عالمَ الغيبِ والشَّهادة، أنتَ تحْكُمُ بين
عِبَادِك فيما كانوا فيه يَخْتَلِفُون، اهْدِنَا لِمَا
اخْتُلِفَ فيه من الحق بإِذْنِكَ؛ إنَّك تَهْدِي من تَشَاء
إلى صراط مستقيم. وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله
وأصحابه أجمعينز والله أعلم بالصَّواب، وآخر دعوانا أن الحمد
لله رب العالمين. رواه مسلم

“Ya Allah, Tuhan malaikat Jibril, Mikail, Israfil, Dzat Yang telah Menciptakan langit dan bumi, Yang Mengetahui hal yang gaib dan yang nampak, Engkau mengadili antara hamba-hambamu dalam segala yang mereka perselisihkan. Tunjukilah kami -atas izin-Mu- kepada kebenaran dalam setiap hal yang diperselisihkan padanya, sesungguhnya Engkau-lah Yang menunjuki orang yang Engkau kehendaki menuju kepada jalan yang lurus. Shalawat dan salam dari Allah semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya. Dan Allah-lah Yang Lebih Mengetahui kebenaran, dan akhir dari setiap doa kami adalah: “Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam”. (Riwayat Muslim)

Semoga Allah Ta’ala melimpahkan keikhlasan kepada kita semua dan melapangkan dada kita guna menerima setiap kebenaran yang datang kepada kita. Wallahu a’alam bisshowab.

Ditulis dalam 1 | Leave a Comment »

JAMA”AH TABLIGH

Ditulis oleh aburomadhon di/pada Mei 14, 2008

Oleh Abu Ihsan Al Atsary

Gerakan dakwah yang dibidani oleh Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi ini merupakan salah satu gerakan dakwah Tashawwuf yang sudah menyebar ke berbagai negara Islam maupun non Islam . Secara lahir gerakan ini nampak baik , karena banyak orang-orang yang dahulunya berandalan menjadi terbimbing melaksanakan ibadah lewat jamaah ini. Namun akhirnya para Ulama mengetahui kebobrokan aqidah kelompok ini, satu persatu ketahuan bid’ah-bid’ah yang ada dalam gerakan ini. Selain itu, pada dasarnya dakwah ini memang diilhami dari pemahaman tasawwuf atau tarekat. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa mereka adalah Shufiyyah ‘Ashriyah (tasawwuf model baru). Gerakan ini berbasis di negara India dan disanalah gerakan ini pertama sekali muncul. Demikian juga di Pakistan dan Bangladesh. Sehingga ketiga negara tersebut (India, Pakistan, dan Bangladesh) merupakan dareah sasaran utama bagi anggota-anggota mereka untuk khuruj. Di Indonesia jama’ah ini sangat berkembang terutama di daerah timur Indonesia.Makna kalimat tauhid menurut jamaah Tabligh Jama’ah Tabligh mempunyai kalimat rahasia yang digunakan sebagai asas tegaknya jama’ah mereka yaitu Segala sesuatu (walaupun merupakan kebenaran) yang bisa menyebabkan orang lari atau berpecah-belah atau berselisih maka harus ditinggalkan dan disingkirkan jauh-jauhOleh karena hal ini maka mereka menafsirkan kalimat tauhid Laa ilaha illa LLah dengan makna Rububiah. Dengan penafsiran beginilah maka kaum muslimin tidak akan berselisih dan berpecah belah. Sebab jika ditafsirkan dengan makna Uluhiah atau Asma’ wa Sifat maka hal ini bisa membuat kaum muslimin lari dari mereka, tidak menerima dakwah mereka dan lebih parah lagi anggota-anggota mereka akan bubar. Hal ini dikarenakan anggota-anggota mereka ada yang Mathurudiah, Asya’iroh dan lain sebagainya. (lihat Qutbiah hal-10) Mereka menafsirkan makna Laa ilaha illa LLah bahwasanya hanya Allah yang menciptakan, memberi rezeki, dan makna-makna yang lainnya yang merupakan makna-makna tauhid rububiah. Padahal Kaum musyrikin Arab dulu juga mengakui tauhid ini.Sehingga didapatkan ada diantara mereka yang menganggap bahwa sahabat nabi tidak mengetahi memahami tauhid. Sebagaimana ada sebuah kisah seorang guru yang merupakan anggota Jama’ah Tabligh sedang mengajar di sebuah madrasah ibtida’iah. Dia menjelaskan tentang kecintaan kepada khulafaur Rosidin. Lalu sampailah dia pada kisah Umar bin Khatab yang di masa beliau timbul kelaparan dan paceklik. Lalu Umar pun menirim surat kepada amir-amir kota untuk membantu memberi rezeki kepadanya. Sehingga Umarpun menyeleweng dari agama disebabkan pengambilan sebab (yaitu Umar meminta tolong kepada manusia). Kemudian guru tersebut berkata pada murid-muridnya :Jika diantara kalian ada yang tertimpa kebakaran atau tenggelam maka janganlah dia berteriak dan menyeru manusia (untuk menolongnya), sebab menyeru kepada manusia adalah kesyirikan. Guru tersebut telah menghilangkan pengambilan sebab dan telah menganggap Umar tidak memahami tauhid karena telah mengambil sebab yang menurut guru tersebut hal itu adalah kesyirikan. (lihat al-qoul al-baligh hal-47-48)Syirik dan khurafat yang terdapat dalam kitab Tablighi Nishab (Manhaj Jamaah Tabligh). Didalamnya terdapat :1. Tawaasul dengan Nabi2. Berlebih-lebihan dalam memuji Rasulullah3. Meminta syafaat kepada selain Allah.4. Berlebih-lebihan terhadap orang shalih.5. Wihdatulwujud.6. Hikayat khurafat.7. Ajaran-ajaran Shufiyah yang sesat.8. Hadits-hadits Dhoif, Dusta dan Palsu.Fatwa terakhir Syaikh Bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Ibrahim Rahimahumallah Dalam buku yang berjudul Jilaaul Adzhan karangan Ghulam Musthafa Hasan dicantumkan fatwa-fatwa syaikhaini yang isinya adalah dukungan dan rekomendasi bagi gerakan Jamaah Tabligh ini. Namun sangat disayangkan penulis buku tersebut tidak mencantumkan fatwa terakhir dari kedua Syaikh tersebut. Selayaknya ia mencantumkan fatwa syaikh yang memansukhkan (menghapus) fatwa sebelumnya, karena hal itu merupakan tuntutan amanah ilmiyah. Sehingga tidak timbul anggapan bahwa rekomendasi dari syaikh Bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Ibrahim masih tetap berlaku! Kedua fatwa itu adalah sebagai berikut:Fatwa terakhir Syaikh Muhammad Bin Ibrahim Dari Muhammad bin Ibrahim kepada Hadrat Putera Mahkota Kerajaan Al-Amir Khalid bin Su’ud, Ketua Dewan Kerajaan Yang Terhormat.As-Salamu ‘Alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuhu. Saya telah menerima surat dari yang Mulia nomor 37/4/5 dengan tanggal 21/1/1382H, yaitu permintaan dari Muhammad bin Abdul Hamid dan Syah Ahmad Nurani dan Abdussalam Al-Qadiri dan Su’uud Ahmad Dahlawi kepada Paduka Raja yang Mulia, tentang permintaan bantuan untuk proyek Jam’iyyah mereka yang bernama Kuliyyatud-Dakwah Wat-Tablighil-Islamiyyah demikian pula tentang tiga buah kitab yang disertakan bersama surat mereka. Saya jelaskan kepada yang Mulia bahwa Jam’iyyah ini tidak ada kebaikan padanya sebab ia adalah jam’iyyah bidah lagi sesat. Setelah membaca ketiga buku yang disertakan tersebut kami mendapatkan ketiga kitab itu penuh dengan kesesatan dan bidah dan ajakan kepada penyembahan kuburan dan syirik serta banyak lagi perkara yang tidak bisa didiamkan begitu saja. Oleh karena itu kami akan membantahnya InsyaAllah dan menyingkap kesesatan seta memberantas kebathilannya. Allah pasti menolong Agama-Nya dan meninggikan Kalimat-Nya. As-Salamu ‘Alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh – 29/1/1382H(Adapun surat Syaikh Muhammad bin Ibrahim kepada para ulama di Al-Ahsa’ dan Kawasan Timur yang isinya adalah permohonan agar memberikan bantuan kepada Jamaah Tabligh tertanggal 19/5/1373H yaitu 9 tahun sebelumnya.)Fatwa terakhir Syaikh Bin Baz yang dikeluarkan pada tahun 1416 H Ada yang bertanya kepada Syaikh sebagai berikut:Wahai Syaikh yang Mulia, kami sering mendengar tentang Jamaah Tabligh dan dakwah yang mereka sebarkan, Bolehkah saya ikut berkecimpung dalam Jamaah ini ? Saya mohon nasehat dan pengarahan dari Anda semoga Allah membalas Anda dengan Pahala yang besarJawab : Setiap Orang yang menyeru kepada Agama Allah maka ia adalah Muballigh. (Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat). Akan tetapi Jamaah Tabligh dari India yang sudah dikenal ini, terdapat khurafat, bidah dan perbuatan syirik pada mereka. Maka tidak boleh khuruj bersama mereka kecuali seseorang yang memiliki ilmu dengan maksud untuk mengingkari (kemungkaran-kemungkaran mereka) dan memberikan pelajaran kepada mereka. Akan tetapi apabila hanya sekedar khuruj mengikuti mereka maka hal itu tidak boleh , disebabkan khurafat, kesalahan dan minimnya ilmu yang ada pada mereka. Apabila yang khuruj bersama mereka adalah orang alim dan berilmu dalam rangka berdakwah kepada jalan Allah dan memberikan pengarahan dan bimbingan kepada kebaikan serta mengajari mereka sehingga meninggalkan cara mereka yang bahil dan berpegang kepada manhaj ahlu sunnah Wal Jamaah, maka hal itu dibolehkan.(dicuplik dari kaset Ta’qib Samahatusy-Syaikh Abdul-Aziz bin Baz ‘Alaa An-Nadwah)(Sedangkan surat-surat Syaikh Bin Baz yang berisi rekomendasi bagi Jamaah Tabligh dikelurkan pada tahun 1407 H yaitu 9 tahun sebelumnya).Khurujnya Jama’ah Tabligh Syaikh al-Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam FATAWA AL-IMARATIAH (hal-30) ditanya tentang Jama’ah Tabligh, beliau memberikan jawaban berikut ini:Dakwah Jama’ah Tabligh adalah dakwah Sufi masa kini yang tidak berpijak pada kitab Allah dan sunnah Rosul-Nya. Khuruj (keluar untuk berdakwah) yang mereka lakukan dan mereka tentukan selama 3 hari atau 40 hari tidak pernah menjadi amalan generasi Salaf, dan bahkan tidak pernah pula menjadi amalan generasi Khalaf (kaum mataakhirin). Yang mengherankan, mereka keluar untuk tabligh (menyampaikan dakwah), padahal mereka sendiri mengakui bahwa mereka bukanlah ahlinya untuk tabligh.Tabligh (menyampaikan dakwah) sepantasnya hanyalah dikerjakan oleh orang-orang yang berilmu, seperti halnya pernah dilakukan oleh Rosulullah ketika mengutus delegasinya yang terdiri dari para shahabat yang alim untuk mengajarkan Islam kepada ummat. Misalnya beliau mengutus Ali bin Abi Tholib seorang diri, mengutus Mu’adz bin Jabal seorang diri (untuk menyampaikan dakwah kepada ummat) dan tidak pernah mengutus serombongan shahabat lain untuk menyertai individu-individu utusan Rosul tersebut. Sekalipun mereka adalah juga shahabat-shahabat Rosul, namun ilmunya tidak dapat menyamai individu-individu para shahabat yang diutus beliau.Karena itulah, kami menasehati agar mereka (orang-orang Jama’ah Tabligh) mau belajar dan memperdalam pemahaman mereka tentang agama. Kemudian, dalam kepergiannya ke negeri kafir untuk berdakwah, sesungguhnya mereka menghadapi fitnah yang jelas sekali, padahal tidak mereka memahami bahasa orang-orang kafir tersebut. Di sisi lain , tidak jarang mereka berdalil dengan perkataan : Lihatlah para sahabat,……mereka ada yang Mekah dan ada pula yang berasal dari Madinah, namun kuburan-kuburan mereka ada yang di negeri Bukhara dan ada yang di negeri Samarkand. (Jika demikian dalil mereka), maka jawabannya adalah betapa inginnya kita seandainya bisa keluar (khuruj) sebagaimana para shahabat dulu telah keluar (khuruj). Mereka keluar untuk berjihad dalam peperangan. Artinya, analogi (pengkiasan) orang-orang Jema’ah Tabligh diatas adalah analogi yang tidak pada tempatnya. Kita tidak mengingkari amar ma’ruf nahi mungkar, tetapi kita mengingkari tanzhim (pengorganisasian dakwah) yang bernama Jama’ah Tabligh ini.Sesungguhnya ada salah seorang tokoh Jama’ah Tabligh menyusun sebuah risalah. Ketika sampai pada penjelasan kalimat Laa ilaha illa LLah, ia menafsirkannya dengan penafsiran Tidak ada yang disembah kecuali Allah… Bagaimana mungkin tidak ada yang disembah selain Allah, padahal berhala-berhala yang disembah (selain Allah) jumlahnya banyak sekali. Para ulama menafsirkan kalimat tersebut dengan :Tidak ada yang disembah dengan benar selain Allah. Kalau yang disembah secara tidak benar, (maka jumlahnya banyak ). Lata disembah, Uzza disembah, Manat disembah, Api disembah dan seterusnya…

Ditulis dalam 1 | 1 Komentar »